Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 26, 2025

Gubernur Aceh Pidato untuk Dunia

Gambar
Pidato [Imajiner] Gubernur Aceh Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Saudara-saudara rakyat Aceh, Hari ini, pada hari ke-25 sejak saya menetapkan status darurat bencana pada 27 November 2025, kita masih merasakan luka yang dalam.  Banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan sejumlah kabupaten  dalam beberapa pekan terakhir seperti tsunami kedua bagi kita.  Saya sendiri tak kuasa menyembunyikan keprihatinan ketika menyaksikan langsung penderitaan rakyat. Berat hati saya melihat rakyat seperti ini. Banyak yang kehilangan rumah, tanah, dan masa depan dalam sekejap. Kita tahu penyebabnya: hutan Aceh telah ditebang, sawit merajalela, monokultur pinus mengeringkan tanah, tambang meracuni sungai.  Dan lebih menyedihkan lagi, deforestasi juga terjadi di Kawasan Ekosistem Leuse. Padahal Leuser telah menjadi benteng pertahanan hidup kita, Leuser juga menjadi rumah bagi gajah, harimau, orangutan, dan ribuan spesies lain. Ia adalah benteng air, benteng udara, b...

Ilustrasi Dunia Terbalik

Gambar
TETAPLAH BODOH Tetaplah bodoh , kawan, jika pintar menuntut kita percaya bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri, kebetulan saja sebagian diberi nomor agar tak tersesat pulang. Tetaplah bodoh , kawan, jika pintar mengharuskan kita sepakat bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau, cukup untuk mengganti nama hutan, meski akarnya tak lagi sudi menahan air.  Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar berarti curiga pada suara kritis, dianggap menggiring opini, menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna, dan empati harus menunggu siaran media. Tetaplah bodoh , kawan, jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing yang tak seberapa itu berbahaya, bisa meruntuhkan martabat bangsa yang konon berdiri tegak tanpa bantuan siapa-siapa.  Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mensyaratkan bantuan bencana dari diaspora perlu dipajaki dulu, agar duka ikut menyumbang penerimaan negara. Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar berarti setuju cukup menteri memanggul karung bantuan, sementara empati ...