Jangan Merasa Dekat, Kalau Gemar Menyakiti
JANGAN MERASA DEKAT DENGAN TUHAN JIKA KEPADA SESAMA MANUSIA SAJA KAMU MASIH GEMAR MENYAKITI. Shalatmu mungkin teratur. Puasamu mungkin penuh. Lisanmu mungkin fasih berbicara tentang surga dan neraka. Namun, bagaimana jika di balik semua itu, masih ada kesombongan, kebencian, dan kebiasaan merendahkan orang lain? Apa arti ibadah jika ia tidak membuatmu lebih mampu menghargai sesama? Spiritualitas bukan sekadar tentang seberapa sering dahi menyentuh sajadah, tetapi juga tentang bagaimana tanganmu menolong, lisanmu menjaga perasaan, dan hatimu memperlakukan mereka yang tak bisa memberikan apa-apa kepadamu. Sebab, kesalehan yang sejati seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin merasa paling suci. Jangan sibuk mengukur kesalehan orang lain. Periksalah bagaimana kehadiranmu membuat orang lain merasa: dihargai atau justru terluka?