Ilustrasi Dunia Terbalik
TETAPLAH BODOH
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar menuntut kita percaya bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri, kebetulan saja sebagian diberi nomor agar tak tersesat pulang.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mengharuskan kita sepakat bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau, cukup untuk mengganti nama hutan, meski akarnya tak lagi sudi menahan air.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar berarti curiga pada suara kritis, dianggap menggiring opini, menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna, dan empati harus menunggu siaran media.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing yang tak seberapa itu berbahaya, bisa meruntuhkan martabat bangsa yang konon berdiri tegak tanpa bantuan siapa-siapa.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mensyaratkan bantuan bencana dari diaspora perlu dipajaki dulu, agar duka ikut menyumbang penerimaan negara.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar berarti setuju cukup menteri memanggul karung bantuan, sementara empati dianggap bonus, tak wajib, apalagi tulus.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar menuntut kita percaya bahwa ribuan korban hanyalah angka, terlalu kecil untuk disebut bencana nasional, hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar menganggap alih hutan ke sawit adalah keniscayaan, dan banjir selalu bisa kita titipkan pada takdir agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda.
Mari, tetap bodoh, kawan.
Sebab di negeri ini, terlalu sering, yang disebut pintar justru adalah kelihaian melawan akal sehat, menyembunyikan fakta, dan memperdayai sesama.
Kawan, mari, tetap Bodoh.
Medio,fw26/12/2025

Komentar
Posting Komentar