Postingan

Gubernur Aceh Pidato untuk Dunia

Gambar
Pidato [Imajiner] Gubernur Aceh Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Saudara-saudara rakyat Aceh, Hari ini, pada hari ke-25 sejak saya menetapkan status darurat bencana pada 27 November 2025, kita masih merasakan luka yang dalam.  Banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan sejumlah kabupaten  dalam beberapa pekan terakhir seperti tsunami kedua bagi kita.  Saya sendiri tak kuasa menyembunyikan keprihatinan ketika menyaksikan langsung penderitaan rakyat. Berat hati saya melihat rakyat seperti ini. Banyak yang kehilangan rumah, tanah, dan masa depan dalam sekejap. Kita tahu penyebabnya: hutan Aceh telah ditebang, sawit merajalela, monokultur pinus mengeringkan tanah, tambang meracuni sungai.  Dan lebih menyedihkan lagi, deforestasi juga terjadi di Kawasan Ekosistem Leuse. Padahal Leuser telah menjadi benteng pertahanan hidup kita, Leuser juga menjadi rumah bagi gajah, harimau, orangutan, dan ribuan spesies lain. Ia adalah benteng air, benteng udara, b...

Ilustrasi Dunia Terbalik

Gambar
TETAPLAH BODOH Tetaplah bodoh , kawan, jika pintar menuntut kita percaya bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri, kebetulan saja sebagian diberi nomor agar tak tersesat pulang. Tetaplah bodoh , kawan, jika pintar mengharuskan kita sepakat bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau, cukup untuk mengganti nama hutan, meski akarnya tak lagi sudi menahan air.  Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar berarti curiga pada suara kritis, dianggap menggiring opini, menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna, dan empati harus menunggu siaran media. Tetaplah bodoh , kawan, jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing yang tak seberapa itu berbahaya, bisa meruntuhkan martabat bangsa yang konon berdiri tegak tanpa bantuan siapa-siapa.  Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mensyaratkan bantuan bencana dari diaspora perlu dipajaki dulu, agar duka ikut menyumbang penerimaan negara. Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar berarti setuju cukup menteri memanggul karung bantuan, sementara empati ...

Nasrul Zaman Segera Minta Maaf ke DPRK Aceh Selatan

Gambar
Seharusnya Seorang Akademisi yang semestinya mengedepankan intelektualitas dan kajian ilmiah dalam setiap ucapan dan perbuatannya, Nasrul Zaman seharusnya mengerti dan memahami bahwa lembaga legislatif merupakan lembaga yang memiliki aturan hukum dan mekanisme yang jelas dalam setiap langkahnya. Nasrul Zaman sebagai Akademisi, kaum intelektual Aceh mestinya ikut andil dalam memecahkan masalah Banjir Aceh Selatan yang selalu terjadi, memberikan solusi bagaimana kita berkolaborasi 3 kabupaten ini untuk membangun waduk raksasa yang dapat mengatur debet air mengalir sehingga tidak menyebabkan banjir di trumon. Disini pak Nazarul Zaman sebagai orang akademis harus berani "meminta maaf" kepada DPRK Aceh Selatan, sekaligus  dapat memberikan solusi mencegah banjir di Trumon dengan membuat kajian ilmiah untuk di jadikan pedoman bagi pemerintah daerah. Jangan bapak menggiring masalah  bencana ke ranah politik praktis dan dapat menjadi isu liar yang melahirkan  kegaduhan politik. Ap...

Mengapa Presiden tidak menetapkan Bencana Nasional untuk Aceh

Gambar
Mengapa Presiden tidak menetapkan Bencana Nasional untuk Aceh Presiden Prabowo Subianto belum menetapkan status bencana nasional untuk Aceh karena pemerintah menyatakan belum memenuhi syarat untuk itu. Beberapa alasan yang dikemukakan adalah bahwa pemerintah masih mampu mengatasi bencana tersebut tanpa bantuan internasional. Namun, ada beberapa pihak yang mempertanyakan keputusan ini, termasuk Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang menilai bahwa pemerintah pusat tidak memiliki empati dan tidak serius dalam menangani bencana di Aceh. Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Aceh juga mendesak Presiden Prabowo untuk menetapkan status bencana Nasional dan menunjuk satu kementerian sebagai leading sector untuk mengkoordinasikan penanganan bencana di Aceh.  Mereka menilai bahwa penanganan bencana saat ini masih lamban dan terhambat oleh masalah administratif dan teknis. Dalam situasi ini, penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Aceh dan mengambil langkah-langkah ya...

Akibat Kebijakan Yang Salah

Gambar
DI BANYAK Wilayah Sumatra , tambang dibuka Tanpa Kendali, Hutan ditebang Tanpa Jeda. Sungai kehilangan kedalaman, Tanah kehilangan daya Ikat. Banjir bandang dan Longsor Datang Silih berganti, Merengut Rumah, Mata pencaharian , Bahkan NYAWA.  INI Bukan Bencana alam Murni , Melainkan Akumulasi Keputusan  : IZIN YG  Ditandatangani, Pengawasan yg diabaikan, dan Keuntungan yg dipilih Dari pada Tanggung jawab.  Penjahat tidak membangun Negara, mereka memperkaya diri sambil merusaknya, Jika kerusakan ini lahir dari kebijakan manusia, apa kita sebut ini takdir. Sampai kapan bencana ini kita sebut takdir dan kapan kita menghentikanya Medio,fw22/12/2025

Negara TDK Runtuh Oleh Bencana.

Gambar
Negara TDK Runtuh Oleh Bencana.  Negara  runtuh Oleh penjahat yang duduk di kursi kekuasaan.Ketika kekuasaan dipakai Bukan untuk Melindungi Rakyat , tetapi Untuk menumpuk kekayaan, yang Hancur pertama Bukan EKONOMI --- Melainkan Tanah, Sungai,Hutan, dan Masa depan.Atas Nama " PEMBANGUNAN" Eksploitasi DILEGALKAN , Kerusakan di Normalkan , dan Penderita Dianggap Biaya SAMPINGAN. DI BANYAK Wilayah Sumatra , tambang dibuka Tanpa Kendali, Hutan ditebang Tanpa Jeda. Sungai kehilangan kedalaman, Tanah kehilangan daya Ikat. Banjir bandang dan Longsor Datang Silih berganti, Merengut Rumah, Mata pencaharian , Bahkan NYAWA. INI Bukan Bencana alam Murni , Melainkan Akumulasi KEPUTUSAN : IZIN YG  Ditandatangani, Pengawasan Pengawasan yg diabaikan, dan Keuntungan yg dipilih Dari pada Tanggung jawab.  SEPERTI MANDELA, PENJAHAT TIDAK MEMBANGUN NEGARA ---- MEREKA MEMPERKAYA DIRI SAMBIL MERUSAK NYA. JIKA KERUSAKAN INI LAHIR DARI KEBIJAKAN MANUSIA , SAMPAI KAPAN KITA MENYEBUT NYA TAKDI...

Wali Nanggroe Aceh Bertemu Duta Besar Uni Eropa

Gambar
  Akhirnya Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia bertemu secara resmi dengan Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar, Kamis 18 /12/2025.  Kabag Humas dan Kerjasama Wali Nanggroe, Zulfikar Idris menyebutkan, pertemuan yang berlangsung pukul 09.00 WIB di Kantor Delegasi Uni Eropa, Menara Astra, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, tersebut menjadi forum dialog strategis antara Aceh dan Uni Eropa. Wali Nanggroe hadir bersama delegasi, termasuk anggota Tim Evaluasi Implementasi MoU Helsinki, yakni Prof. Dr. Syahrizal Abas, Prof. Dr. Yusri Yusuf, dan Dr. Raviq. Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa didampingi oleh Duta Besar Spanyol, Wakil Duta Besar Belanda, serta Atase Politik Delegasi Uni Eropa. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka, hangat, dan konstruktif. Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Uni Eropa menegaskan bahwa simpati yang disampaikan merupakan wujud solidaritas komunitas Eropa terhadap masyarakat yang terdampak bencana banjir dan lo...