Ketika Aceh Singkil dan Subulussalam Tidak Lagi Dianggap Bagian BARSELA
Perjuangan untuk Siapa? Ketika Aceh Singkil dan Subulussalam Tidak Lagi Dianggap Bagian BARSELA
Aceh Singkil pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Selatan. Dari aspek sejarah, kehidupan sosial, budaya, bahasa, hingga hubungan kekeluargaan, masyarakat Aceh Singkil memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan masyarakat Aceh Selatan. Ikatan tersebut tidak hanya terbentuk secara administratif pada masa lalu, tetapi juga tumbuh dari kesamaan identitas, sejarah perjuangan, serta hubungan emosional yang telah berlangsung selama puluhan tahun.Karena rasa memiliki itu, setiap kali muncul persoalan yang menyangkut Aceh Singkil, baik sengketa wilayah perbatasan dengan Sumatera Utara maupun persoalan pelayanan penyeberangan menuju Kepulauan Nias, masyarakat Aceh Selatan dan kawasan Barat Selatan Aceh selalu menunjukkan kepedulian. Ketika ada upaya menggeser batas wilayah Aceh, seluruh elemen masyarakat berdiri bersama mempertahankan agar wilayah tersebut tetap menjadi bagian dari Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa Aceh Singkil bukan sekadar wilayah administratif, melainkan bagian dari satu kesatuan sejarah, budaya, dan teritorial yang tidak dapat dipisahkan.
Oleh karena itu, muncul pertanyaan ketika dalam dokumen perjuangan KP3 ABAS, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam tidak lagi menjadi bagian dari konsep wilayah provinsi yang diperjuangkan. Mengapa dua daerah yang memiliki keterkaitan historis, geografis, ekonomi, dan sosial yang sangat erat dengan kawasan Barat Selatan justru dikeluarkan dari rancangan tersebut? Pertanyaan ini layak dijawab secara terbuka agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat, termasuk anggapan adanya pertimbangan politik jangka pendek yang justru berpotensi melemahkan semangat persatuan dalam perjuangan pembentukan daerah otonom baru.
Padahal, dalam setiap kajian pembentukan provinsi baru, kekuatan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh aspek administratif, tetapi juga oleh kesatuan wilayah, jumlah penduduk, kapasitas fiskal, potensi ekonomi, konektivitas, serta nilai strategis nasional. Dalam konteks tersebut, keberadaan Aceh Singkil dan Kota Subulussalam memberikan kontribusi yang sangat penting bagi kelayakan Provinsi BARSELA.
Apabila kedua daerah tersebut tidak menjadi bagian dari BARSELA, maka terdapat sejumlah konsekuensi strategis yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
* Berkurangnya nilai strategis nasional karena hilangnya wilayah perbatasan langsung antara Aceh dan Sumatera Utara.
* Menurunnya jumlah penduduk serta kapasitas fiskal yang menjadi salah satu indikator penting dalam pembentukan daerah otonom baru.
* Hilangnya koridor ekonomi dan konektivitas lintas provinsi yang selama ini menjadi pintu gerbang kawasan Barat Selatan Aceh.
* Melemahnya konsep pengembangan Blue Economy, ekonomi kelautan, dan visi Provinsi Maritim Samudra Hindia yang selama ini menjadi salah satu keunggulan BARSELA.
* Berkurangnya daya tawar politik dan argumentasi akademik ketika usulan pembentukan provinsi diajukan kepada Pemerintah Pusat dan DPR RI.
Atas dasar itu, perjuangan pembentukan Provinsi BARSELA atau ABAS seharusnya dibangun di atas prinsip kebersamaan, keutuhan wilayah, serta penghormatan terhadap sejarah dan identitas masyarakat. Aceh Singkil dan Kota Subulussalam bukanlah wilayah pelengkap, melainkan bagian integral dari kawasan Barat Selatan Aceh yang memiliki kontribusi strategis bagi keberhasilan pembentukan provinsi baru.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan perjuangan yang sedang berlangsung, melainkan sebagai masukan konstruktif kepada KP3 ABAS sekaligus bahan refleksi bagi seluruh masyarakat Barat Selatan Aceh. Harapannya, setiap langkah perjuangan ke depan semakin mengedepankan persatuan, objektivitas, dan kepentingan jangka panjang masyarakat, sehingga cita-cita menghadirkan provinsi baru yang kuat, mandiri, dan berdaya saing dapat diwujudkan secara bersama-sama.
Medio,4/7/2026

Komentar