Sekeping Kata dari Gontor


Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, berdiri di depan Presiden Prabowo.

Bukan untuk menjilat.

Bukan untuk memuji.

Tapi mengingatkan.

“Maaf ya Pak Presiden, saya ngomong tidak enak. Sorry ye!”

Lalu keluar kalimat yang lebih penting:

"Kami tetap memilih pendidikan."

“Jangan sekali-kali lupakan sejarah. Bergurulah pada sejarah!”

Ini bukan pidato seremoni.

Ini pengingat bahwa kekuasaan harus punya cermin.

Dan cermin itu salah satunya adalah pendidikan, sejarah, moral, dan suara ulama.

Gontor bahkan menegaskan:

“Gontor tidak puas!”

Kalimat pendek.

Tapi maknanya panjang.

Sebab tugas lembaga pendidikan bukan membuat penguasa selalu nyaman.

Tugas pendidikan adalah membuat manusia berani berpikir.

Dan tugas ulama bukan menjadi pengeras suara penguasa.

Ulama seharusnya menjadi rem ketika kekuasaan mulai melaju terlalu jauh.

Sebab kalau semua orang di sekitar penguasa hanya berkata:

“Siap, Pak.”

“Aman, Pak.”

“Luar biasa, Pak.”

Lalu siapa yang berani berkata:

“Pak, ini keliru.”

Siapa yang mengingatkan kalau kebijakan negara mulai menyimpang dari kepentingan rakyat?

Siapa yang mengatakan bahwa sejarah tidak boleh dipoles sesuai kepentingan penguasa?

Dan siapa yang berani mengatakan:

“Kekuasaan itu sementara. Tapi akibat keputusanmu bisa ditanggung rakyat selama puluhan tahun.”

Itulah kenapa independensi lembaga pendidikan dan ulama penting.

Presiden boleh datang ke pesantren.

Pejabat boleh duduk di barisan depan.

Tapi akal sehat jangan ikut duduk di belakang.

Dan jangan salah.

Mengkritik penguasa bukan berarti membenci penguasa.

Justru kadang, orang yang berani mengatakan sesuatu yang tidak enak adalah orang yang paling berguna bagi kekuasaan.

Karena penguasa tidak kekurangan orang yang memuji.

Yang langka adalah orang yang berani mengingatkan.

Kiai tidak harus membungkuk di hadapan kekuasaan.

Yang harus dibungkukkan adalah kepala kita kepada kebenaran.

Bukan kepada jabatan.

Karena ketika ulama terlalu nyaman di samping penguasa, rakyat kehilangan salah satu suara yang seharusnya berani berkata:

“Pak Presiden, maaf... tapi ini tidak benar.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DPRK Bicara, PLT Bupati Diam Saja

Politik Sesat: Copot PLT Sekda Aceh Selatan

Ada 7 Langkah Cerdas Mirwan.MS Saat Kembali Bertugas